PENGARUH
KEBUDAYAAN ASING TERHADAP PENDIDIKAN DI SD
(Study Pada Guru
di SDN DEWI SARTIKA CBM)
JURNAL
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Pend.IPS di SD I
Program
Studi Pendidikan Guru SD
Disusun Oleh :
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH SUKABUMI
( UMMI )
2013
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat
Allah SWT.bahwa kami telah menyelesaikan tugas mata kuliah Pend.IPS di SD1 dengan membahas
tentang Pengaruh Kebudayaan Asing terhadap Pendidikan dalam bentuk jurnal.
Dalam penyusunan tugas atau materi
ini, tidak sedikit hambatan yang kami hadapi. Namun kami menyadari bahwa
kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan dan
bimbingan orang tua, sehingga kendala-kendala yang kami hadapi teratasi. Oleh
karena itu kami mengucapkan terimakasih kepada :
- Dosen mata kuliah Pend.IPS di SD 1 yang telah memberikan tugas, petunjuk, kepada kami sehingga kami termotivasi untuk menyelesaikan tugas ini.
- Teman-teman yang telah turut membantu, membimbing, dan mengatasi berbagai kesulitan sehingga tugas ini selesai.
Dalam tatanan kehidupan yang telah mengalami kemajuan dalam berbagai bidang, khususnya dalam bidang informasi, tidak menutup kemungkinan bahwa pengaruh luar dalam proses pendidikan tidak hanya sebatas pada adat istiadat dan budaya masyarakat di mana proses pendidikan berjalan. Akan tetapi, budaya luar dalam hal ini budaya asing akan mempengaruhi pendidikan di negara kita.
- Realitas Kebudayaan Asing di SDN DEWI SARTIKA CBM Kota Sukabumi
- Realitas Pendidikan di SD CBM DEWI SARTIKA Kota Sukabumi
- Realitas Pengaruh Kebudayaan Asing Terhadap Pendidikan di SDN DEWI SARTIKA CBM Kota Sukabumi
2. Pendidikan adalah proses perkembangan kecakapan seseorang dalam bentuk sikap dan prilaku yang berlaku dalam masyarakatnya. Proses sosial dimana seseorang dipengaruhi oleh sesuatu lingkungan yang terpimpin (khususnya di sekolah)
3. Pendidikan adalah pengaruh lingkungan atas individu untuk menghasilkanperubahan yang tepat didalam kebiasaan tingkah lakunya, pikiranya dan perasaannya.[13]
- Input
- Sasaran pendidikan, yaitu : individu, kelompok, masyarakat
- Pendidik
- Yaitu pelaku pendidikan
- Proses
- Yaitu upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain
- Output
- Yaitu melakukan apa yang diharapkan / perilaku (Soekidjo Notoatmodjo. 2003 : 16)
- Menanamkan pengetahuan / pengertian, pendapat dan konsep-konsep
- Mengubah sikap dan persepsi
- Menanamkan tingkah laku / kebiasaan yang baru (Soekidjo Notoatmodjo. 2003 : 68)
- Agama
- Kewarganegaraan
- Jasmani dan Kesehatan
- Teknologi Informatika dan Komunikasi
- Bahasa Indonesia
- Bahasa Inggris
- Bahasa Daerah
- Bahasa Asing
- Matematika
- Ilmu Pengetahuan Alam
- Sejarah
- Ilmu Pengetahuan Sosial
- Seni Budaya dan Keterampilan
- Pendidikan Agama
- Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
- Matematika
- Bahasa Indonesia
- Pendidikan Jasmani dan Kesehatan
- Keterampilan Tangan / Prakarya
- Kurikulum Sekolah Dasar
- Kurikulum Proyek Printis Sekolah Pembangunan (PSPP)
- Kurikulum 1984
- Kurikulum 1994
- Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)
- Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
- Kurikulum 2013
(Di unduh pada tanggal 17 Januari 2013.)
Semoga materi ini dapat bermanfaat
dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi
kami sehingga tujuan yang diharapkan dapat
tercapai, Amiin.
Sukabumi,10 Desember 2012
Penyusun
ABSTRAK
Jurnal yang berjudul pengaruh kebudayaan asing terhadap
pendidikan di SD ini membahas mengenai Hubungan Pendidikan dalam Lingkup
Kebudayaan, Apakah Kebudayaan Asing sangat berpengaruh
terhadap Pendidikan di SD ,dan Eksistensi kebudayaan lokal dalam
Pendidikan di SD setelah adanya pengaruh
dari Kebudayaan asing.
Tujuan
penulisan jurnal ilmiah ini adalah untuk mengetahui apakah kebudayaan asing
berpengaruh terhadap pendidikan terutama di SD,dam kami mengambil study kasus
di SDN DEWI SARTIKA CBM sebagai penelitian kami.
Dalam penelitian ini kami menggunkan
Metodelogi dengan pendekatan kuantitatif.Teknik penarikan sampel dalam
penelitian ini dilakukan dengan penyebaran “Questioner” ( pertanyaan ) untuk di
isi langsung oleh responden untuk mendapatkan jawaban langsung. Kami
menyebarkan angket untuk mendapatkan data-data yang di butuhkan.
Berdasarkan
hasil penelitian, kami mengetahui bahwa hubungan antara pengaruh kebudayaan
asing terhadap pendidikan di SDN DEWI SRTIKA CBM Kota Sukabumi termasuk
kategori kuat/tinggi. Hal ini berdasarkan pada hasil perhitungan koefisiensi
korelasi yang di peroleh dengan anhka sebesar 0,655 dan angka tersebut jika
ditafsirkan pada tingkat penilaian termasuk katagori kuat/tinggi karena berada
pada interval 0,60 – 0,799. Dilihat dari pengaruh derajat kebebasan variabel
pengaruh kebudayaan asing terhadap pendidikan di SD DEWI SARTIKA CBM Kota
Sukabumi sebesar 42,90%. Hal ini menunjukan bahwa adanya pengaruh yang
signifikan antara pengaruh kebudayaan asing terhadap pendidikan di SDN CBM DEWI
SARTIKA Kota Sukabumi.
DAFTAR
ISI
Kata
Pengantar…………………………………………………………. i
Abstrak…………………………………………………………………. ii
Daftar
Isi……………………………………………………………….. iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang…………………………………………………….. 1
1.2 Rumusan
Masalah………………………………………………….. 2
1.3 Sistematika
Penulisan……………………………………………… 3
1.4 Manfaat
Penelitian…………………………………………………. 3
BAB II REVIEW
LITERATURE
2.1 Pengertian Kebudayaan
Asing………………………………………. 4
2.2 Pengertian Kebudayaan
Lokal………………………………………. 6
2.3 Unsur-unsur
kebudayaan……………………………………………. 8
2.4 Pengertian Pendidikan………………………………………………. 10
2.5 Unsur-unsur
pendidikan…………………………………………….. 11
2.6 Tujuan pendidikan…………………………………………………... 12
2.7 Hipotesis……………………………………………………………… 14
BAB III METODELOGI
PENELITIAN
3.1 Pendekatan dan Jenis
Penelitian…………………………………….. 15
3.2 Kehadiran
Peneliti…………………………………………………… 15
3.3 Lokasi Penelitian……………………………………………………. 16
3.4 Prosedur Pengumpulan
Data………………………………………… 16
3.5 Hasil
Penelitian…………………………………………………….... 16
3.6 Analisis data………………………………………………………… 16
3.7 Laporan Hasil Penelitian……………………………………………... 16
BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Realitas Pengaruh
Kebudayaan Asing di SDN Dewi Sartika CBM Kota
Sukabumi…………………………………………………….............. 18
4.2 Realitas Pendidikan
di SDN DEWI SARTIKA CBM Kota
Sukabumi……………………………………………………............... 27
4.3 Realitas Pengaruh
kebudayaan Asing terhadap pendidikan di
SDN DEWI
SARTIKA CBM Kota Sukabumi…………………………………….. 44
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan…………………………………………………………… 47
5.2 Saran…………………………………………………………………... 48
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………….. 49
LAMPIRAN………………………………………………………………. 51
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Masuknya budaya asing ke
Indonesia disebabkan salah satunya karena adanya krisis globalisasi yang
meracuni Indonesia. Pengaruh tersebut berjalan sangat cepat dan menyangkut
berbagai bidang kehidupan, terutama dibidang pendidikan. Tentu saja pengaruh
tersebut akan menghasilkan dampak yang sangat luas pada sistem kebudayaan
masyarakat. Teknologi yang berkembang pada era globasisasi ini mempengaruhi
karakter sosial dan budaya dari lingkungan sosial.
Hilangnya budaya
indonesia secara bertahap di akibatkan karena adanya perubahan sosial yang
terjadi dalam masyarakat, faktor yang terjadi dalam masyarakat maupun luar
masyarakat itu sendiri.
Pendidikan
di sekolah terutama di SD bukan hanya ditentukan oleh usaha murid secara
individualatau berkat interaksi murid dan guru dalam proses belajar-mengajar,
melainkan juga oleh interaksi murid dengan lingkungan sosialnya dalam berbagai
situasi sosial yang di hadapinya di dalam maupun diluar sekolah. Anak itu
berbeda-beda bukan hanya karena berbeda bakat atau pembawaannya akan tetapi
terutama karena pengaruh lingkungan sosial yang telah banyak terintimidasi oleh
kebudayaan asing di era sekarang ini yang bahkan pelahan-lahan menggeser budaya
dan bahasa lokal sebagai ciri khas bangsa indonesia. Ia datang ke sekolah
dengan membawa kebudayaan masing-masing, yang mempunyai corak tertentu,
bergantung antara lain pada golongan atau status sosial, kesukuan,agama,
nilai-nilai dan aspirasi orang tuanya. Di sekolah ia akan memilih teman,
kelompok,yang ada pada suatu saat akan sangat mempengaruhi tingkah lakunya.
Selanjutnya anak dipengaruhi oleh kepala sekolah dan guru-guru, yang
masing-masing mempunyai kepribadian sendiri-sendiri yang antara lain terbentuk
atas golongan sosial dari mana ia berasal dariorang-orang yang dipilihnya
sebagai kelompok pergaulannya. Pendidikan sendiri dapat dipandang sebagai
sosialisasi, yang terjadi dalam interaksi sosial. Maka karena itu sudah sewajarnya
sebagai calon pendidik harus menganalisa mengenai seberapa jauh mana pengaruh
kebudayaan asing yang telah mempengaruhi pendidikan, terutama pendidikan SD.
Berdasarkan
fenomena-fenomena tersebut, kami tertarik untuk mengkaji
permasalahan-permasalahan tersebut dengan mengangkat suatu judul penelitian
yaitu “Pengaruh Kebudayaan Asing Terhadap Pendidikan di SD “.
1.2
Rumusan
Masalah
Berdasarkan
uraian yang terdapat pada latar belakang di atas, maka berikut dirumuskan
tentang beberapa permasalahan pokok dalam penelitian ini yaitu:
1.3
Sistematika
Penulisan
Dalam
pembahasan jurnal ini kami membagi dalam bagian-bagian, tiap bagian
terdiri bab-bab dan setiap bab terdiri dari sub-sub bab yang saling berhubungan
dalam kerangka satu kesatuan yang logis dan sistematis.
Adapun
sistematika pembahasan sebagai berikut:
Pada Bab I Pendahuluan
Kami membahas tentang : Latar
Belakang, Rumusan Masalah, Sistematik Penulisan, dan Manfaat Penelitian.
Pada Bab II Review Literatur
Kami membahas tentang : Review
Literature yang sesuai dengan Rumusan Maslah, dikutip dari beberapa sumber.
Pada Bab III Metodelogi
Kami membahas tentang : Metodelogi
Penelitian yang telah kami lakukan melalui metode kuantitatif dengan
menggunakan Quitioner yang kami lakukan kepada guru yang ada di SDN DEWI
SARTIKA CBM tanpa melibatkan siswa.
Pada Bab IV Pembahasan
Kami membahas tentang : Pembahasan yang menjawab Rumusan Masalah dan
Metodelogi yang telah kami lakukan, lebih jelasnya dapat dilihat di Bab III.
Pada Bab V Kesimpulan
Kami membahas tentang : Kesimpulan
yang berisi mengenai seluruh isi penulisan dari Bab I sampai Bab IV yang telah
kami bahas sebelumnya.
1.4
Manfaat
Penelitian
Dalam penulisan ini banyak sekali manfaat yang dapat diambil
serta bertujuan, untuk:
1. Menyadarkan pendidik dan peserta didik akan bahaya kebudayaan
asing yang perlahan-lahan menggantikan kebudayaan lokal.
2. Menyadarkan pentingnya melestarikan kebudayaan local
BAB II
REVIEW LITERATURE
2.1
Pengertian Kebudayaan Asing
Kebudayaan
barat adalah kebudayaan yang cara pembinaan kesadarannya dengan cara mamahami
ilmu pengtahuan dan filsafat. Mereka melakukan berbagai macam cara diskusi dan
debat untuk menemukan atau menentukan makna seperti apa yang sebenarnyamurni
/asli dari kesadaran. Mereka banyak belajar dan juga mengajar yang awalnya
datang dari proses diskusi dan perdebatan yang mereka lakukan.[1]
Ada
3 ciri dominan dalam budaya Barat:
Pertama
adalah “penghargaan terhadap martabat manusia”. Hal ini bisa dilihat pada
nilai-nilai seperti: demokrasi, institusi sosial, dan kesejahteraan ekonomi.
Kedua
adalah “kebebasan”. Di Barat anak anak berbicara terbuka di depan orang dewasa,
orang orang berpakaian menurut selera masing-masing, mengemukakan pendapat
secara bebas, tidak membedakan status sosial dsb.
Ketiga
adalah “penciptaan dan pemanfaatan teknologi” seperti pesawat jet, satelit, televisi,
telepon, listrik, komputer dsb. orang Barat menekankan logika dan ilmu. orang
Barat cenderung aktif dan analitis.
Kebudayaan
Negara barat sering di sebut sebagai kebudayaan modern,padahal istilah itu
tidak seharusnya benar.Karena istilah modern tidak selamanya bersumber dari
Negara barat,dapat saja di Negara timur pun terdapat moderenisasi.Menurut
prof.koentjaraningrat (1983) moderenisasi adalah usaha untuk hidup sesuai
dengan zaman dan konstelasi dunia.Di jelaskan pula bahwa pada abad ke -2 SM dan
2 M,Negara romawi menjadi Negara yang maju dalam bidang ilmu
pengetahuan,ekonomi dan politik,sehingga banyak Negara-negara menyesuaikan diri
dengan keadaan romawi pada waktu itu.Abad ke-4 dan 10 di india dan cina banyak
kerajaan-kerajaan yang maju,sehingga India da Cina waktu itu menguasai
konstelasi dunia.
School
(1980) menjelaskan masalah moderenisasai sebagai proses penerapan ilmu
pengetahuan dan teknologi ke dalam semua segi kehidupan manusia dengan tingkat
yang berbeda-beda,tetapi tujuan utamanya untuk mencapai taraf kehidupan yang
lebih baik dan lebih nyaman dalam arti seluas-luasnya,sepanjang dapat di terima
oleh masyarakat yang bersangkutan. Moderenisasi sebagai proses yang dilandasi
oleh seperangkat rencana dan kebijaksanaan yang disadari untuk mengubah
masyarakat kea rah kehidupan masyarakat yang kontemporer yang menurut penilaian
lebih maju dalam derajat kehormatan tertentu.
Moderenisasii
menghasilkan manusia modern.menurut Alex Inkeles (1966) manusia dapat dianggap
modern apabila:
1. Adanya
kesediaan menerima pengalaman baru dan terbuka terdapat penemuan dan
perubahan-perubahan baru
2. Dapat
menangkap dan memahami sejumlah masalah yang tidak hanya terbatas dalam
lingkungan terdekat,tetapi juga lingkungan yang lebih jauh
3. Berpandangan
maju ke depan dengan tidak mengabaikan pengalaman-pengalaman yang lampau
4. Mempunyai
tindakan yang teratur tersusun dan teliti dalam menyelesaikan suatu masalah
5. Mempunyai
perencanaan berdasarkan pengaturan yang matang
6. Mempunyai
keyakinan bahwa manusia mampu mengatasi kesulitan-kesulitan yang ditimbulkan
oleh lingkungan dalam usaha mencapai tujuan
7. Berpandangan
bahwa segala sesuatu dapat diperehitungkan
8. Mempunyai
rasa penghargaan terhadap usaha-usaha orang lain
9. Mempunyai
kepercayaan pada ilmu pengetahuan dan teknologi
10. Menghargai
teguran-teguran yang bersifat membangun
2.2
Pengertian Kebudayaan Lokal
Brikut
ini akan dikutip beberapa definisi kebudayaan, yaitu :
1. Koentjaningrat
Menurut beliau
kebudayaan adalah “ keseluruhan system gagasan, tindakan, dan hasil karya
manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia
dengan cara belajar.[2]
2. E.B.Taylor
Menurutnya
kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks didalamnya mencakup ilmu
pengetahuan , kepercayaan, kesenian, moral, dan hukujm, adat istiadat, dan
kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang
diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.[3]
3. Selo
sumarjan
Kebudayaan
adalah hasil rasa, karsa, dan karya manusia.
Kebudayaan
adalah konfigurasi tingkah laku yang dipelajari dan hasil tingjah laku , yang
unsur pembentukannya di dukung dan diteruskan oleh anggota masyarakat tertentu
(R.Linton: 1947)[4]
1. Kebudayaan
adalah pola hidup yang tercipta dalam sejarah yang eksplisit, implisit,
rasional, irasional dan nonrasional yang terdapat pada setiap waktu sebagai
pedoman yang potensial bagi tingkah laku manusia. (W.H. Kelly dan C.Kluckhon:1952)[5]
2. Kebudayaan
adalah keseluruhan hasil daya budhi cipta, karya dan karsa manusia yang di
pergunaan lingkungan seta pengalamanyan agar menjadi pedoman bagi tingkah
lakunya, sesuai dengan unsur-unsur universal didalamnya. (Ariono Suyono: 1985)[6]
3. Dauglas
Jackson (1985)
Kebudayaan
adalah akumulasi pengalaman manusia yang ditransmisikan dari generasi ke
generasi dan didifusikan dari kelompok yang satu ke kelompok lainya di
permukaan bumi.[7]
4. Spuhler
(1965)
Kebudayaan adalah adaftasi biologis
yang ditransmisikan secara non genetic
Dari
pengertian di atas dapat kita simpulkan bahwa ciri-ciri kebudayaan adalah
sebagai berikut:
1. Kebudayaan
diciptakan oleh manusia melalui perasaan (rasa),kemauan (karsa),dan karya
(hasil)
2. Kebudayaan
dibutuhkan oleh oleh manusia untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan
untuk memenuhi berbagai kebutuhan
3. Kebudayaan
di peroleh manusia melalui belajar
4. Kebudayaan
diwariskan dari generasi ke generasi secara non genetis
5. Kebudayaan
dimiliki dan diakui oleh masyarakat
6. Kebudayaan
berubah-ubah (dinamis)l
7. Kebudayaan
dapat berupa gagasan (ide),tindakan (perilaku) dan hasil karya yang berbentuk
material (kebendaan)
5. Budaya Lokal adalah budaya asli dari
suatu kelompok masyarakat tertentu yang juga menjadi ciri khas budaya sebuah
kelompok masyarakat lokal. (menurut J.W. Ajawaila)[8]
Kebudayaan
sunda merupakan suatu kesatuan yang berbeda dari kebudayaan
jawa,Banten,Bali,atau lainnya,karena orang sunda sendri menyadari bahwa di
antara warga sunda ada keseragaman dalam kebudayaan yang memiliki kepribadian
dan jati diri yang berbeda dengan kebudayaan lain itu.Terutama adanya bahasa
sunda yang berbeda dengan bahasa jawa,atau bali,makin menyadarkan orang sunda
akan kepribdian khusus tadi.[9]
2.3
Unsur-unsur Kebudayaan
Menurut C.
Kluckhohn yang dikutip Koentjaraningrat (1990: 203-204), terdapat 7 unsur
Kebudayaan:[10]
1. Bahasa.
Kemampuan
berbahsa adalah cirri khas dari mahluk yang namanya manusia.
Kebutuhan-kebutuhan akan kemampuan berbahasa sejalan dengan kebutuhan akan
interaksi sosial. Bahasa dibedakan atas berikut ini:
a. Bahasa
isyarat, misalnya bunyi keuntungan, gerakan tangan, anggukan atau gelengan
kepala dan isyarat lainnya yang diterima berdasarkan kesepakatan suatu
masyarakat.
b. Bahasa
lisan yang diucapkan oleh mulut.
c. Bahasa
tulisan melalui buku, gambar, surat dan koran.
2. Sistem
Pengetahuan.
Sistem
Pengetahuan merupakan salah satu unsur kebudayaan universal yang dpat ditemukan
dalam semua kebudayaan dari semua bangsa yang ada dimuka bumi ini. Sistem
Pengetahuan itu mencakup semua pengetahuan yang dimiliki anggota suatu
masyarakat tentang alam, tumbuhan, binatang, ruang dan waktu, suku bangsa atau
bangsa yang bersangkutan.
3. Organisasi
Sosial
Dalam
tiap masyarakat, kehidupan masyarakat diorganisasi atau diatur oleh adat
istiadat dan aturan-aturan mengenai berbagai kesatuan didalam lingkungan dimana
ia hidup dan bergaul. Kesatuan social yang paling dekat dan mesra adalah
kesatuan kerabatnya, yaitu keluarga inti (nuclear family).
4. Sistem
Peralatan Hidup dan Teknologi.
Dalam
kehidupan, manusia tidak lepas dari adanya teknologi. Artinya, bahwa teknologi
merupakan keseluruhan cara yang secara rasional mengarah pada cirri efisiensi
dalam setiap kegiatan manusia. Anglin mendefinisikan teknologi sebagai
penerapan ilmu-ilmu perilaku dan alam serta pengetahuan lain secara bersistem
dan untuk memecahkan masalah.
5. Sistem
Mata Pencaharian Hidup.
Perhatian
para ahli Antroplogi terhadap berbagai macam system pencaharian atau system
ekonomi pada awalnya hanya terbatas kepada system yang bersifat tradisional,
terutama dalam rangka perhatian mereka terhadap kebudayaan suatu suku bangsa
secara holistik. Berbagai system tersebut adalah berburu dan meramu, berternak,
becocok tanam di lading, menangkap ikan, dan bercocok tanam menetap dengan irigasi.
6. Sistem
Religi.
Pada
hakekatnya unsure kebudayaan yang disebut religi adalah amat kompleks, dan
berkembang di berbagai tempat di dunia, yang dimaksud system religi disini
adalah system kepercayaan yang timbul di masyarakat disebabkan oleh adanya suatu
kekuatan diluar nalar manusia tersebut, seperti adanya kekuatan yang
menyebabkan meletusnya gunung, gempa dan lain-lain, yang kesemua fenomena
tersebut awalnya diluar nalar manusia.
7. Kesenian.
Kesenian
merupakan unsur kebudayaan universal yang sudah pasti akan didapatkan pada
semua kebudayaan, semua bangsa yang hidup dimuka bumi ini. Baik bangsa yang
hidup terpencil, maupun bangsa-bangsa yang sudah maju. Demikian juga bangsa
Indonesia merupakan masyarakat yang majemuk yang terdiri dari beberapa suku bangsa
dan mendukung kebudayaan yang berbeda-beda itu tampak bahwa setiap suku bangsa
itu mengembangkan bentuk-bentuk dan jenis-jenis kesenian yang beraneka ragam.
2.4
Pengertian Pendidikan
Pendidikan merupakan kegiatan mengoptimalkan perkembangan
potensi, kecakapan dan karakteristik pribadi peserta didik.
Pendidikan
merupakan suatu kegiatan yang berintikan interaksi antara peserta didik dengan
para pendidik serta berbagai sumber pendidikan.
Beberapa
pengertian dari pendidikan :
sehingga iya dapat
mencapai kecakapan sosial dan mengembangkan kepribadiannya.[12]
Pendidikan
secara umum adalah segala upaya yang direncanakan
untuk mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok, atau masyarakat sehingga
mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan. (Soekidjo
Notoatmodjo. 2003 : 16) [14]
Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tatalaku
seseorang atau
kelompok
orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan,
proses, cara, perbuatan mendidik. ( Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional
2002:263 )
Pendidikan
adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. ( UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang
Sistem pendidikan,pasal 1 )
2.5
Unsur-unsur
Pendidikan
- Input
Sasaran pendidikan, yaitu : individu, kelompok, masyarakat - Pendidik
Yaitu pelaku pendidikan - Proses
Yaitu upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain - Output
Yaitu melakukan apa yang diharapkan / perilaku (Soekidjo Notoatmodjo. 2003 : 16)
2.6
Tujuan pendidikan
Pendidikan di Indonesia adalah seluruh pendidikan yang diselenggarakan di Indonesia, baik itu secara terstruktur maupun tidak terstruktur.
Secara terstruktur.[15]
Pendidikan di Indonesia terbagi ke dalam tiga jalur utama,
yaitu formal, nonformal, dan informal. Pendidikan juga dibagi ke dalam empat
jenjang, yaitu anak usia dini, dasar, menengah, dan tinggi.
Sekolah dasar adalah jenjang paling
dasar pada pendidikan formal di Indonesia. Sekolah dasar ditempuh dalam waktu 6 tahun, mulai
dari kelas 1 sampai kelas 6.
Pelajar
sekolah dasar umumnya berusia 7-12 tahun. Di Indonesia, setiap warga negara
berusia 7-15 tahun tahun wajib mengikuti pendidikan dasar, yakni sekolah dasar
(atau sederajat) 6 tahun dan sekolah menengah pertama (atau sederajat) 3 tahun.
Sekolah dasar
diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta. Sejak diberlakukannya otonomi
daerah pada tahun 2001,
pengelolaan sekolah dasar negeri (SDN) di Indonesia yang sebelumnya berada di
bawah Departemen Pendidikan
Nasional, kini menjadi tanggung jawab pemerintah
daerah kabupaten/kota. Sedangkan
Departemen Pendidikan Nasional hanya berperan sebagai regulator dalam bidang
standar nasional pendidikan. Secara struktural, sekolah dasar negeri merupakan
unit pelaksana teknis dinas pendidikan
kabupaten/kota.
Dan
untuk Kurikulum 2013 mata pelajarannya adalah :
Jika
kita lihat uraian di atas, terdapat lebih dari 5 model kurikulum yang telah
digunakan oleh Indonesia.[16]
2.7
Hipotesis
Dari
uraian di atas maka kami mengajukan hipotesis penelitian sebagai berikut :
1. Merumuskan
hipotesis alternative (Ha)
Terdapat
pengaruh yang signifikan antara budaya asing terhadap pendidikan di SDN DEWI
SARTIKA CBM Kota Sukabumi
2. Merumuskan
hipotesis nihil (Ho)
Tidak
terdapat pengaruh yang signifikan antara budaya asing terhadap pendidikan di
SDN DEWI SARTIKA Kota Sukabumi.
[1] http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id/artikel_detail-45448-Makalah
Perbedaan%20Kebudayaan%20Barat%20dan%20Kebudayaan%20Timur.html
[2]
Koentjaraningrat.2005,Pengantar
Antropoligi 1. Jakarta: Rineka Cipta
[3]
Hartomo.2008.Ilmu Sosial Dasar.
Jakarta: Bima Aksara. Hal :39
[4]R.Linton.1947.Antropologi Budaya. Bandung : Cipta Aditya Bakti. Hal :95
[5]W.H.
Kelly dan C.Kluckhon.
Antropologi Budaya. Bandung : Cipta Aditya Bakti. Hal :95
[6]
Ariono Suyono.1985. Antropologi Budaya.
Bandung: Cipta Aditya Bakti. Hal 95
[7]
Dauglas Jackson.1985.Konsep Dasar IPS.Jakarta:Universitas
Terbuka.hal:84
[8] http://mbahkarno.blogspot.com/2012/10/pengertiandefinisi-budaya-lokal-dan.html (Di unduh pada tanggal 17 Januari 2013)
[9]
Koentjaraningrat,1990.Pengantar
Antropologi 1. Jakarta : Rineka Cipta. Hal : 266
[10]
Koentjaraningrat.1990. Pengantar Ilmu
Antropologi.Jakrata :Rineka Cipta. Hal : 203-204
[11] UU Sisdiknas. 2003. Dasar Konsep Pendidikan Moral.
Jakarta:Alfabeta, hal: 1
[12] Carter
V. Good. 1977.Dasar Konsep Pendidikan
Moral.Jakarta:Alfabeta. Hal :1
[13] Godfrey
Thomson.1977.Dasar Konsep Pendidikan
Moral.Jakarta: Alfabeta. Hal:2
[14]
http://www.geocities,com/frans_98/uu/uu_20_03.htm. Accesed
on April 10th 2008
[15] www.wikipedia.com
di unduh pada tgl 25 pebruari 2013
[16]
http://www.kemdiknas.go.id/kemdikbud/peserta-didik-sekolah-dasar di unduh
pada tgl 25 ferbruari 2013
BAB II
REVIEW LITERATURE
2.1
Pengertian Kebudayaan Asing
Kebudayaan
barat adalah kebudayaan yang cara pembinaan kesadarannya dengan cara mamahami
ilmu pengtahuan dan filsafat. Mereka melakukan berbagai macam cara diskusi dan
debat untuk menemukan atau menentukan makna seperti apa yang sebenarnyamurni
/asli dari kesadaran. Mereka banyak belajar dan juga mengajar yang awalnya
datang dari proses diskusi dan perdebatan yang mereka lakukan.[1]
Ada
3 ciri dominan dalam budaya Barat:
Pertama
adalah “penghargaan terhadap martabat manusia”. Hal ini bisa dilihat pada
nilai-nilai seperti: demokrasi, institusi sosial, dan kesejahteraan ekonomi.
Kedua
adalah “kebebasan”. Di Barat anak anak berbicara terbuka di depan orang dewasa,
orang orang berpakaian menurut selera masing-masing, mengemukakan pendapat
secara bebas, tidak membedakan status sosial dsb.
Ketiga
adalah “penciptaan dan pemanfaatan teknologi” seperti pesawat jet, satelit, televisi,
telepon, listrik, komputer dsb. orang Barat menekankan logika dan ilmu. orang
Barat cenderung aktif dan analitis.
Kebudayaan
Negara barat sering di sebut sebagai kebudayaan modern,padahal istilah itu
tidak seharusnya benar.Karena istilah modern tidak selamanya bersumber dari
Negara barat,dapat saja di Negara timur pun terdapat moderenisasi.Menurut
prof.koentjaraningrat (1983) moderenisasi adalah usaha untuk hidup sesuai
dengan zaman dan konstelasi dunia.Di jelaskan pula bahwa pada abad ke -2 SM dan
2 M,Negara romawi menjadi Negara yang maju dalam bidang ilmu
pengetahuan,ekonomi dan politik,sehingga banyak Negara-negara menyesuaikan diri
dengan keadaan romawi pada waktu itu.Abad ke-4 dan 10 di india dan cina banyak
kerajaan-kerajaan yang maju,sehingga India da Cina waktu itu menguasai
konstelasi dunia.
School
(1980) menjelaskan masalah moderenisasai sebagai proses penerapan ilmu
pengetahuan dan teknologi ke dalam semua segi kehidupan manusia dengan tingkat
yang berbeda-beda,tetapi tujuan utamanya untuk mencapai taraf kehidupan yang
lebih baik dan lebih nyaman dalam arti seluas-luasnya,sepanjang dapat di terima
oleh masyarakat yang bersangkutan. Moderenisasi sebagai proses yang dilandasi
oleh seperangkat rencana dan kebijaksanaan yang disadari untuk mengubah
masyarakat kea rah kehidupan masyarakat yang kontemporer yang menurut penilaian
lebih maju dalam derajat kehormatan tertentu.
Moderenisasii
menghasilkan manusia modern.menurut Alex Inkeles (1966) manusia dapat dianggap
modern apabila:
1. Adanya
kesediaan menerima pengalaman baru dan terbuka terdapat penemuan dan
perubahan-perubahan baru
2. Dapat
menangkap dan memahami sejumlah masalah yang tidak hanya terbatas dalam
lingkungan terdekat,tetapi juga lingkungan yang lebih jauh
3. Berpandangan
maju ke depan dengan tidak mengabaikan pengalaman-pengalaman yang lampau
4. Mempunyai
tindakan yang teratur tersusun dan teliti dalam menyelesaikan suatu masalah
5. Mempunyai
perencanaan berdasarkan pengaturan yang matang
6. Mempunyai
keyakinan bahwa manusia mampu mengatasi kesulitan-kesulitan yang ditimbulkan
oleh lingkungan dalam usaha mencapai tujuan
7. Berpandangan
bahwa segala sesuatu dapat diperehitungkan
8. Mempunyai
rasa penghargaan terhadap usaha-usaha orang lain
9. Mempunyai
kepercayaan pada ilmu pengetahuan dan teknologi
10. Menghargai
teguran-teguran yang bersifat membangun
2.2
Pengertian Kebudayaan Lokal
Brikut
ini akan dikutip beberapa definisi kebudayaan, yaitu :
1. Koentjaningrat
Menurut beliau
kebudayaan adalah “ keseluruhan system gagasan, tindakan, dan hasil karya
manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia
dengan cara belajar.[2]
2. E.B.Taylor
Menurutnya
kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks didalamnya mencakup ilmu
pengetahuan , kepercayaan, kesenian, moral, dan hukujm, adat istiadat, dan
kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang
diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.[3]
3. Selo
sumarjan
Kebudayaan
adalah hasil rasa, karsa, dan karya manusia.
Kebudayaan
adalah konfigurasi tingkah laku yang dipelajari dan hasil tingjah laku , yang
unsur pembentukannya di dukung dan diteruskan oleh anggota masyarakat tertentu
(R.Linton: 1947)[4]
1. Kebudayaan
adalah pola hidup yang tercipta dalam sejarah yang eksplisit, implisit,
rasional, irasional dan nonrasional yang terdapat pada setiap waktu sebagai
pedoman yang potensial bagi tingkah laku manusia. (W.H. Kelly dan C.Kluckhon:1952)[5]
2. Kebudayaan
adalah keseluruhan hasil daya budhi cipta, karya dan karsa manusia yang di
pergunaan lingkungan seta pengalamanyan agar menjadi pedoman bagi tingkah
lakunya, sesuai dengan unsur-unsur universal didalamnya. (Ariono Suyono: 1985)[6]
3. Dauglas
Jackson (1985)
Kebudayaan
adalah akumulasi pengalaman manusia yang ditransmisikan dari generasi ke
generasi dan didifusikan dari kelompok yang satu ke kelompok lainya di
permukaan bumi.[7]
4. Spuhler
(1965)
Kebudayaan adalah adaftasi biologis
yang ditransmisikan secara non genetic
Dari
pengertian di atas dapat kita simpulkan bahwa ciri-ciri kebudayaan adalah
sebagai berikut:
1. Kebudayaan
diciptakan oleh manusia melalui perasaan (rasa),kemauan (karsa),dan karya
(hasil)
2. Kebudayaan
dibutuhkan oleh oleh manusia untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan
untuk memenuhi berbagai kebutuhan
3. Kebudayaan
di peroleh manusia melalui belajar
4. Kebudayaan
diwariskan dari generasi ke generasi secara non genetis
5. Kebudayaan
dimiliki dan diakui oleh masyarakat
6. Kebudayaan
berubah-ubah (dinamis)l
7. Kebudayaan
dapat berupa gagasan (ide),tindakan (perilaku) dan hasil karya yang berbentuk
material (kebendaan)
5. Budaya Lokal adalah budaya asli dari
suatu kelompok masyarakat tertentu yang juga menjadi ciri khas budaya sebuah
kelompok masyarakat lokal. (menurut J.W. Ajawaila)[8]
Kebudayaan
sunda merupakan suatu kesatuan yang berbeda dari kebudayaan
jawa,Banten,Bali,atau lainnya,karena orang sunda sendri menyadari bahwa di
antara warga sunda ada keseragaman dalam kebudayaan yang memiliki kepribadian
dan jati diri yang berbeda dengan kebudayaan lain itu.Terutama adanya bahasa
sunda yang berbeda dengan bahasa jawa,atau bali,makin menyadarkan orang sunda
akan kepribdian khusus tadi.[9]
2.3
Unsur-unsur Kebudayaan
Menurut C.
Kluckhohn yang dikutip Koentjaraningrat (1990: 203-204), terdapat 7 unsur
Kebudayaan:[10]
1. Bahasa.
Kemampuan
berbahsa adalah cirri khas dari mahluk yang namanya manusia.
Kebutuhan-kebutuhan akan kemampuan berbahasa sejalan dengan kebutuhan akan
interaksi sosial. Bahasa dibedakan atas berikut ini:
a. Bahasa
isyarat, misalnya bunyi keuntungan, gerakan tangan, anggukan atau gelengan
kepala dan isyarat lainnya yang diterima berdasarkan kesepakatan suatu
masyarakat.
b. Bahasa
lisan yang diucapkan oleh mulut.
c. Bahasa
tulisan melalui buku, gambar, surat dan koran.
2. Sistem
Pengetahuan.
Sistem
Pengetahuan merupakan salah satu unsur kebudayaan universal yang dpat ditemukan
dalam semua kebudayaan dari semua bangsa yang ada dimuka bumi ini. Sistem
Pengetahuan itu mencakup semua pengetahuan yang dimiliki anggota suatu
masyarakat tentang alam, tumbuhan, binatang, ruang dan waktu, suku bangsa atau
bangsa yang bersangkutan.
3. Organisasi
Sosial
Dalam
tiap masyarakat, kehidupan masyarakat diorganisasi atau diatur oleh adat
istiadat dan aturan-aturan mengenai berbagai kesatuan didalam lingkungan dimana
ia hidup dan bergaul. Kesatuan social yang paling dekat dan mesra adalah
kesatuan kerabatnya, yaitu keluarga inti (nuclear family).
4. Sistem
Peralatan Hidup dan Teknologi.
Dalam
kehidupan, manusia tidak lepas dari adanya teknologi. Artinya, bahwa teknologi
merupakan keseluruhan cara yang secara rasional mengarah pada cirri efisiensi
dalam setiap kegiatan manusia. Anglin mendefinisikan teknologi sebagai
penerapan ilmu-ilmu perilaku dan alam serta pengetahuan lain secara bersistem
dan untuk memecahkan masalah.
5. Sistem
Mata Pencaharian Hidup.
Perhatian
para ahli Antroplogi terhadap berbagai macam system pencaharian atau system
ekonomi pada awalnya hanya terbatas kepada system yang bersifat tradisional,
terutama dalam rangka perhatian mereka terhadap kebudayaan suatu suku bangsa
secara holistik. Berbagai system tersebut adalah berburu dan meramu, berternak,
becocok tanam di lading, menangkap ikan, dan bercocok tanam menetap dengan irigasi.
6. Sistem
Religi.
Pada
hakekatnya unsure kebudayaan yang disebut religi adalah amat kompleks, dan
berkembang di berbagai tempat di dunia, yang dimaksud system religi disini
adalah system kepercayaan yang timbul di masyarakat disebabkan oleh adanya suatu
kekuatan diluar nalar manusia tersebut, seperti adanya kekuatan yang
menyebabkan meletusnya gunung, gempa dan lain-lain, yang kesemua fenomena
tersebut awalnya diluar nalar manusia.
7. Kesenian.
Kesenian
merupakan unsur kebudayaan universal yang sudah pasti akan didapatkan pada
semua kebudayaan, semua bangsa yang hidup dimuka bumi ini. Baik bangsa yang
hidup terpencil, maupun bangsa-bangsa yang sudah maju. Demikian juga bangsa
Indonesia merupakan masyarakat yang majemuk yang terdiri dari beberapa suku bangsa
dan mendukung kebudayaan yang berbeda-beda itu tampak bahwa setiap suku bangsa
itu mengembangkan bentuk-bentuk dan jenis-jenis kesenian yang beraneka ragam.
2.4
Pengertian Pendidikan
Pendidikan merupakan kegiatan mengoptimalkan perkembangan
potensi, kecakapan dan karakteristik pribadi peserta didik.
Pendidikan
merupakan suatu kegiatan yang berintikan interaksi antara peserta didik dengan
para pendidik serta berbagai sumber pendidikan.
Beberapa
pengertian dari pendidikan :
1. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.[11]
2. Pendidikan adalah proses perkembangan kecakapan seseorang dalam bentuk sikap dan prilaku yang berlaku dalam masyarakatnya. Proses sosial dimana seseorang dipengaruhi oleh sesuatu lingkungan yang terpimpin (khususnya di sekolah)
sehingga iya dapat
mencapai kecakapan sosial dan mengembangkan kepribadiannya.[12]
3. Pendidikan adalah pengaruh lingkungan atas individu untuk menghasilkanperubahan yang tepat didalam kebiasaan tingkah lakunya, pikiranya dan perasaannya.[13]
3. Pendidikan adalah pengaruh lingkungan atas individu untuk menghasilkanperubahan yang tepat didalam kebiasaan tingkah lakunya, pikiranya dan perasaannya.[13]
Pendidikan
secara umum adalah segala upaya yang direncanakan
untuk mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok, atau masyarakat sehingga
mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan. (Soekidjo
Notoatmodjo. 2003 : 16) [14]
Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tatalaku
seseorang atau
kelompok
orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan,
proses, cara, perbuatan mendidik. ( Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional
2002:263 )
Pendidikan
adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. ( UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang
Sistem pendidikan,pasal 1 )
2.5
Unsur-unsur
Pendidikan
- Input
Sasaran pendidikan, yaitu : individu, kelompok, masyarakat - Pendidik
Yaitu pelaku pendidikan - Proses
Yaitu upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain - Output
Yaitu melakukan apa yang diharapkan / perilaku (Soekidjo Notoatmodjo. 2003 : 16)
- Menanamkan pengetahuan / pengertian, pendapat dan konsep-konsep
- Mengubah sikap dan persepsi
- Menanamkan tingkah laku / kebiasaan yang baru (Soekidjo Notoatmodjo. 2003 : 68)
Pendidikan di Indonesia adalah seluruh pendidikan yang diselenggarakan di Indonesia, baik itu secara terstruktur maupun tidak terstruktur.
Secara terstruktur.[15]
Pendidikan di Indonesia terbagi ke dalam tiga jalur utama,
yaitu formal, nonformal, dan informal. Pendidikan juga dibagi ke dalam empat
jenjang, yaitu anak usia dini, dasar, menengah, dan tinggi.
Sekolah dasar adalah jenjang paling
dasar pada pendidikan formal di Indonesia. Sekolah dasar ditempuh dalam waktu 6 tahun, mulai
dari kelas 1 sampai kelas 6.
Pelajar
sekolah dasar umumnya berusia 7-12 tahun. Di Indonesia, setiap warga negara
berusia 7-15 tahun tahun wajib mengikuti pendidikan dasar, yakni sekolah dasar
(atau sederajat) 6 tahun dan sekolah menengah pertama (atau sederajat) 3 tahun.
Sekolah dasar
diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta. Sejak diberlakukannya otonomi
daerah pada tahun 2001,
pengelolaan sekolah dasar negeri (SDN) di Indonesia yang sebelumnya berada di
bawah Departemen Pendidikan
Nasional, kini menjadi tanggung jawab pemerintah
daerah kabupaten/kota. Sedangkan
Departemen Pendidikan Nasional hanya berperan sebagai regulator dalam bidang
standar nasional pendidikan. Secara struktural, sekolah dasar negeri merupakan
unit pelaksana teknis dinas pendidikan
kabupaten/kota.
- Agama
- Kewarganegaraan
- Jasmani dan Kesehatan
- Teknologi Informatika dan Komunikasi
- Bahasa Indonesia
- Bahasa Inggris
- Bahasa Daerah
- Bahasa Asing
- Matematika
- Ilmu Pengetahuan Alam
- Sejarah
- Ilmu Pengetahuan Sosial
- Seni Budaya dan Keterampilan
Dan
untuk Kurikulum 2013 mata pelajarannya adalah :
- Pendidikan Agama
- Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
- Matematika
- Bahasa Indonesia
- Pendidikan Jasmani dan Kesehatan
- Keterampilan Tangan / Prakarya
Jika
kita lihat uraian di atas, terdapat lebih dari 5 model kurikulum yang telah
digunakan oleh Indonesia.[16]
- Kurikulum Sekolah Dasar
- Kurikulum Proyek Printis Sekolah Pembangunan (PSPP)
- Kurikulum 1984
- Kurikulum 1994
- Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)
- Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
- Kurikulum 2013
2.7
Hipotesis
Dari
uraian di atas maka kami mengajukan hipotesis penelitian sebagai berikut :
1. Merumuskan
hipotesis alternative (Ha)
Terdapat
pengaruh yang signifikan antara budaya asing terhadap pendidikan di SDN DEWI
SARTIKA CBM Kota Sukabumi
2. Merumuskan
hipotesis nihil (Ho)
Tidak
terdapat pengaruh yang signifikan antara budaya asing terhadap pendidikan di
SDN DEWI SARTIKA Kota Sukabumi.
[1] http://alhada-fisip11.web.unair.ac.id/artikel_detail-45448-Makalah
Perbedaan%20Kebudayaan%20Barat%20dan%20Kebudayaan%20Timur.html
(Di unduh pada tanggal 17 Januari 2013.)
(Di unduh pada tanggal 17 Januari 2013.)
[2]
Koentjaraningrat.2005,Pengantar
Antropoligi 1. Jakarta: Rineka Cipta
[3]
Hartomo.2008.Ilmu Sosial Dasar.
Jakarta: Bima Aksara. Hal :39
[4]R.Linton.1947.Antropologi Budaya. Bandung : Cipta Aditya Bakti. Hal :95
[5]W.H.
Kelly dan C.Kluckhon.
Antropologi Budaya. Bandung : Cipta Aditya Bakti. Hal :95
[6]
Ariono Suyono.1985. Antropologi Budaya.
Bandung: Cipta Aditya Bakti. Hal 95
[7]
Dauglas Jackson.1985.Konsep Dasar IPS.Jakarta:Universitas
Terbuka.hal:84
[8] http://mbahkarno.blogspot.com/2012/10/pengertiandefinisi-budaya-lokal-dan.html (Di unduh pada tanggal 17 Januari 2013)
[9]
Koentjaraningrat,1990.Pengantar
Antropologi 1. Jakarta : Rineka Cipta. Hal : 266
[10]
Koentjaraningrat.1990. Pengantar Ilmu
Antropologi.Jakrata :Rineka Cipta. Hal : 203-204
[11] UU Sisdiknas. 2003. Dasar Konsep Pendidikan Moral.
Jakarta:Alfabeta, hal: 1
[12] Carter
V. Good. 1977.Dasar Konsep Pendidikan
Moral.Jakarta:Alfabeta. Hal :1
[13] Godfrey
Thomson.1977.Dasar Konsep Pendidikan
Moral.Jakarta: Alfabeta. Hal:2
[16]
http://www.kemdiknas.go.id/kemdikbud/peserta-didik-sekolah-dasar di unduh
pada tgl 25 ferbruari 2013
BAB
III
METODELOGI
PENELITIAN
3.1 Pendekatan dan Jenis Penelitian
Dalam
penelitian ini kami menggunkan Metodelogi dengan pendekatan kuantitatif.
Penelitian
kuantitatif adalah penelitian ilmiah yang sistematis terhadap bagian-bagian dan
fenomena serta hubungan-hubungannya. Tujuan penelitian kuantitatif adalah
mengembangkan dan menggunakan model-model matematis, teori-teori dan/atau
hipotesis yang berkaitan dengan fenomena alam. Proses pengukuran adalah bagian
yang sentral dalam penelitian kuantitatif karena hal ini memberikan hubungan
yang fundamental antara pengamatan empiris dan ekspresi matematis dari
hubungan-hubungan kuantitatif.[1]
Penelitian
kuantitatif banyak dipergunakan baik dalam ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu
sosial, dari fisika dan biologi hingga sosiologi dan jurnalisme. Pendekatan ini
juga digunakan sebagai cara untuk meneliti berbagai aspek dari pendidikan.
3.2
Kehadiran
Peneliti
Dalam
hal ini peneliti adalah sebagai instrumen kunci,yaitu sebagai pengumpul data,
sedangkan instrumen yang lain adalah sebagai penunjang.
3.3
Lokasi
Penelitian
Penelitian
ini berlokasi di :
Nama
: SDN DEWI SARTIKA CBM
Alamat
: Jln. Dewi sartika no 01 kec. Cikole Kota Sukabumi
3.4
Prosedur
Pengumpulan Data
Tehnik
pengumpulan data pada penelitian ini adalah kuesioner dengan membuat angket untuk
informan yaitu Guru SDN DEWI SARTIKA CBM.
Kuesioner
adalah suatu teknik informasi yang memungkinkan analisis mempelajari
sikap-sikap, keyakian, perilaku, dan karakteristik beberapa orang utama di
dalam organisasi yang bisa terpengaruh oleh system yang di ajukan, atau system
yang sudah ada. [2]
3.5
Populasi
dan Sampel
a. Populasi
Populasi
dalam penelitian ini adalah guru SDN DEWI SARTIKA CBM Kota Sukabumi pada tahun
ajaran 2012/2013 berjumlah 36 orang.
b. Sampel
Teknik
penarikan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan penyebaran “Questioner”
( pertanyaan ) untuk di isi langsung oleh responden untuk mendapatkan jawaban
langsung. Kami menyebarkan angket untuk mendapatkan data-data yang di butuhkan.
3.6
Analisis
data
Analisis
data yang kami gunakan adalah dua cara yaitu analisis logika bagi data-data
yang bersipat kualitatif dan data-data yang bersifat kuantitatif menggunakan
analisis statistik.
- Variable X ( Kebudayaan Asing )
·
Gaya Hidup
·
Pakaian ( Fashion )
·
Makanan ( food )
·
Teknologi
- Variable Y ( Pendidikan )
·
Kurikulum
Di unduh pada tanggal 21 januari 2013
[2]
http://alfside.wordpress.com/2008/10/28/pengertian-kuisoner/
Di unduh
pada tanggal 17 Januari 2013

0 komentar:
Posting Komentar